Upacara Pemgambilan Air Sakral (Kuru We Fohon) Rumah Adat Berebein Aularan

 

Masih Hasae Kakaluk123

alas.desa.id// Ritual-ritual adat dalam tradisi dan kebudayaan dalam kurban menjadi utama dalam setiap upacara adat. Terutama kurban kerbau saat selesai pembangunan rumah adat/suku. Dalam upacara ini banyak rangkaian acara sebelum masuk pada kurban sembelihan kerbau, upacara ini dimulai dari tahap I perencanaan mengundang semua keluarga secara lisan dari rumah ke rumah (katak ema = istilah bahasa tetun), tahap II meriahkan acara dengan segala macam tarian tradisional seperti likurai, meronggeng, dan jenis tarian lainnya.

Tahap III adalah kuru we fohon (mengambil air yang dianggap sakral dalam suku-air pemali) yang sumbernya sudah ditetapkan sejak dahulu kala. Dan untuk mengambil air ini diutus para Meo (pahlawan) yang akan diberi kekuatan (kakaluk = istilah bahasa tetun/bahasa daerah). Para Meo akan menginap 1 malam di sumber air sakral dan setelah subuh mereka akan bergegas pulang membawa air sudah diisi dalam tempayan (Babonu = istilah bahasa tetun) dan para meo dijemput dengan tarian likurai (penari) di tengah perjalanan sebelum memasuki perkampungan tempat rumah adat dibangun. Dan sampai di perkampungan para meo akan diserang oleh orang-orang yang menunggu di rumah sebagai satu ujian kekuatan untuk para meo. Setelah air sakral tiba di rumah adat, air tersebut disimpan di tempat yang sudah disediakan di dalam rumah (pasnya di kakuluk = istilah adat).

Kemudian masuk tahap IV adalah tahap penyembelihan kerbau di depan foho (foho = tempat yang terbuat dari susunan batu di depan setiap rumah adat) yang akan dipotong oleh Meo yang sudah dipercayakan para meo dan tua-tua adat. Dia diberi kekuatan yang dasyath oleh semua suku dengan meniupkan nafas di atas kepala bagi yang dipercayakan untuk memotong kerbau tersebut dengan pedang rumah suku yang dianggap sakral. Setelah selesai penyembelihan darah kerbau yang tumpah di tanah wajib dikenakan pada dahi, kaki atau bagian tubuh lainnya oleh semua anggota suku rumah adat tersebut sebagai lambang kekuatan baru bagi mereka. Kemudian kerbau yang sudah dipotong tersebut dagingnya dibagi-bagikan kepada para meo untuk dimakan dan tidak boleh dibawa pulang ke rumah masing-masing. Semua upacara/ritual yang berlangsung selalu dimeriahkan dengan tarian-tarian tradisional terutama likurai, meronggeng dan tebe. Itulah kisah singkat tentang tradisi penyembelihan kerbau setelah selesai pembangunan suatu rumah adat/suku. Admin DA

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*